Di jaman dewasa ini, begitu banyak tawaran media pembayaran yang masyarakat bisa nikmati. Mulai dari belanja menggunakan uang cash, kartu debet/ATM sampai menggunakan kartu kredit. Khusus untuk masyarakat Indonesia yang katanya sedang menuju menjadi negara maju. Penggunaan Kartu Kredit kurang bisa dinikmati oleh kalangan masyarakat golongan menengah ke bawah. Pasalnya, syarat untuk mengurus pembuatan kartu kredit, sangat rumit dan sepertinya memang dikhususkan bagi mereka yang berkantong tebal. Lembaga keuangan yang mengurusi pembuatan kartu kredit memang tidak mau mengambil resiko besar dengan menggampangkan setiap oarang yang mau memiliki kartu kredit apalagi bagi mereka yang tidak memiliki sumber pendapatan yang jelas. Sedangkan yang berpenghasilan tetap saja masih harus lolos seleksi administrasi, yaitu untuk minimum pendapatan yang ia miliki dalam sebulannya. Padahal sebenarnya jika pemerintah mau bercermin pada hal ini, fasilitas kartu kredit bisa dijadikan salah satu cara untuk menanggulangi kemiskinan & membantu mereka yang membutuhkan biaya untuk membuka usaha kecil.
Mungkin sebagian menganggap ide saya konyol!! Tapi baca dulu selanjutnya..
Dibanding pemerintah memberi uang melalui program BLT, yang mana masyarakat harus mengantri untuk pengambilan + potong sana + potong sini. Malah membuat masyarakat tambah sengsara & mendidik masyarakat kita untuk selalu berpangku tangan terhadap pemerintah. Padahal pemerintah kita sendiri pusing memikirkan subsidi yang sangat tinggi terhadap rakyat
Lantas apa bedanya dengan fasilitas yang dibuat oleh Bank atau program yang dilakukan Kementrian Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah?? Jawabannya: Jelas beda.
Coba saja anda ke bank melayangkan permohonan pemimjaman uang, pasti anda diminta memberikan jaminan yang besar. Mulai surat-surat kendaraan sampai dengan sertifikat rumah menjadi jaminan agar permohonan peminjaman anda dikabulkan. Sedangkan program pemerintah melalui kementriannya belum mengena ke seluruh lapisan masyarakat seantero Indonesia.
Kartu kredit untuk rakyat miskin polanya seperti ini:
Pemerintah menerbitkan kartu kredit untuk mereka yang masuk dalam daftar orang miskin menurut pemerintah. Atau mereka yang berhak mendapat BLT. Kartu tersebut di terbitkan dengan limit tarulah Rp.500.000,-. Kemudian dibuat sebuah aturan yang mengharuskan setiap pemilik kartu mengelola kredit limit tersebut agar bisa menghasilkan income buat si pemilik kartu. Barang siapa yang bisa menghasilkan uang sejumlah tertentu, tarulah Rp.300.000,- dalam jangka waktu tertentu misalnya 3 bulan. Dan itu langsung disetor ke pengelola kartu kredit. Akan dibebaskan dari dari bunga Plus ia mempunyai saldo uang pribadi Rp.300.000,- + Kredit Rp.500.000,- Atau jika memungkinkan uang Rp.300.000,- tersebut tidak dapat diambil sampai berakhirnya masa keanggotaan si pemilik kartu. Jadi pemerintah juga mengedukasikan masyarakat untuk menabung. Dan hanya limit kredit Rp.500.000 yang dapat digunakan kembali untuk digunakan dalam membangun usahanya. Keuntungannya buat pengelola adalah ketika si pemilik kartu hendak berhenti dari keanggotaan, saldo terakhir tinggal dipotong biaya administrasi jika dibebankan.
Pertanyaannya kemudian, tapi apabila kreditnya macet?? Jawabannya: Apa bedanya, jika pemerintah memberikan uang tunai sebesar Rp.300.000,- kepada rakyat!! Toh pemerintah juga tidak pernah mengawasi penggunaannya.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika ada yang menyalahgunakan dalam penggunaan kartu kredit tersebut?? Jawabannya: Kartu tersebut dibatasi penggunaannya hanya untuk barang tertentu, seperti: 9 bahan pokok dan barang yang terlebih dahulu sudah di daftarkan si pemilik kartu ketika pengajuan pembuatan kartu. Jadi selain 9 bahan pokok tersebut pemilik kartu hanya bisa membeli barang untuk digunakan sebagai modal usaha. Jika mau ganti jenis barang, ya tinggal pengajuan saja..
Kartu kredit untuk rakyat miskin selain “memaksa” masyarakat kita untuk menabung juga memacu mereka untuk berusaha mencari pendapatan dari limit kredit tersebut. Dan tentunya menjadi pembelajaran teknologi buat mereka.
Semoga tulisan ini bisa memacu kreatifitas pemerintah negara saya, agar lebih kreatif membangun rakyatnya menuju ke negara maju. Amin Ya Allah..