Alternatif Belanja Masyarakat Jakarta

Konsep hypermarket merupakan sebuah alternatif untuk mengatasi menurunnya daya beli masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi. Karena dengan konsep ini hypermarket menawarkan harga yang lebih rendah dibandingkan supermarket ataupun minimarket. Hal ini membuat para ritel hypermarket saling bersaing dalam menjaring konsumen agar mau berbelanja di tempatnya. Karya akhir ini memiliki tiga tujuan utama yaitu mengetahui top of mind dari konsumen terhadap setiap hypermarket yang ada di Jakarta, mengetahui dan menganalisis perilaku konsumen terhadap setiap hypermarket yang ada di Jakarta, serta mengetahui atribut-atribut yang dapat mempengaruhi konsumen untuk melakukan konsumsi akan kebutuhannya pada hypermarket tersebut. Studi karya akhir ini menggunakan dua pendekatan yaitu penelitian eksploratori dan penelitian deskriptif. Penelitian eksploratori dilakukan untuk mengetahui atribut-atribut yang menjadi pertimbangan konsumen pada setiap kunjungannya untuk berbelanja pada salah satu hypermarket tersebut sedangkan penelitian deskriptif dalam bentuk kuesioner ditujukan untuk mendapatkan informasi data primer mengenai perilaku konsumen hypermarket. Populasi target dalam penelitian ini adalah semua orang yang berbelanja pada retail hypermarket yang dimaksud (Alfa, Carrefour, dan Makro) yang berdomisili di Jakarta. Hasil penelitian pada karya akhir ini menunjukkan bahwa dari sisi awareness, Makro menempati posisi pertama untuk Top of mind awareness diikuti oleh Carrefour. Sedangkan peringkat pertama untuk pengujian unaided awareness ditempati oleh Carrefour. Dalam pengujian aided awareness, lebih dari 90% responden dari total 150 responden memiliki awareness terhadap 3 nama hypermarket yaitu Carrefour , Makro dan Alfa. Dari sisi perilaku konsumen menunjukkan bahwa perilaku responden saat berbelanja di hypermarket cukup bervariasi. Pertama, setiap responden pernah melakukan pembelanjaan pada lebih dari satu hypermarket dengan alasan bahwa lokasi dari hypermarket mudah dicapai, harga relatif murah produk yang dijual lengkap, kemudahan dalam mencari barang, kenyamanan berbelanja, kualitas barang baik, parkir luas dan aman serta kebersihan yang terjaga. Kedua, sebagian besar responden sering melakukan pembelanjaan rutin pada hypermarket tersebut dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan usaha. Dengan rata-rata lama waktu yang paling banyak digunakan konsumen adalah satu jam. Dan hari yang paling sering digunakan sebagai waktu untuk berbelanja adalah pada saat akhir pekan bersama –sama dengan keluarga. Ketiga, kategori produk yang paling banyak dibeli pada hypermarket adalah kategori produk toiletries, diikuti dengan beras / tepung / gula, sayur / buah serta peralatan rumah tangga dan perlengkapan dapur / bumbu. Keempat, sebagian besar responden dalam berbelanja selalu membuat daftar belanja terlebih dahulu sehingga lebih terencana. Dari importance analysis menunjukkan bahwa yang menjadi faktor utama yang dipertimbangkan oleh responden dalam memilih dan membeli barang kebutuhan di hypermarket pada umumnya adalah kualitas produk dan harga. Dan dari hasil perhitungan melalui analisis faktor, terdapat 4 dimensi yang harus diperhatikan bagi masing-masing ritel swalayan hypermarket yaitu produk, harga, fasilitas dan promosi. Temuan ini memberikan beberapa implikasi bagi pihak manajemen ritel terutama bagi manajemen ritel hypermarket bahwa awareness konsumen dapat terus ditingkatkan dengan menambah event promosi serta terus meningkatkan eksposure ritelnya melalui media cetak dan elektronik. Implikasi lain bagi pihak manajemen dari masing-masing hypermarket adalah sebaiknya terus meningkatkan performancenya baik melalui fasilitas yang dimilikinya maupun suasana tokonya

Tinggalkan Balasan